Selasa, 28 Juni 2011
Salah satu legenda AC Milan, Cesare Maldini, memprediksi Marek Hansik bakal menjadi kunci sukses I Rossoneri pada musim depan, jika mereka benar-benar mendatangkannya pada bursa transfer musim panas ini.
Prediksi itu tentunya dibuat Cesare didasari beberapa faktor yang selama ini dimiliki Hamsik. Cesare menilai kalau gelandang asal Rep. Ceska itu memiliki karakter yang pas dan cocok dengan pola permainan yang saat ini diterapkan Milan.
"Saya pikir Milan akan kembali jaya jika mereka mendapatkan Hamsik. Dia akan bisa beradaptasi dengan cepat di Milan. Dia adalah pemain hebat dan dia cocok untuk klub ini (Milan)," jelas Cesare.
"Dia adalah atlet yang hebat, yang terus berlari dan selalu muncul di area yang berbahaya. Dia kuat secara fisik dan mencetak banyak gol walaupun ia hanya gelandang. Meski demikian itu semua hanya opini saya," ujar Cesare, seperti yang dikutip Goal.
Milan sendiri kabarnya memang tertarik untuk mendapatkan Hamsik sepeninggal Andrea Pirlo pada akhir musim lalu. Apalagi kabarnya Milan memiliki cadangan dana sebesar 50 juta euro untuk transfer pemain pada bursa transfer musim panas ini.
Hanya saja transfer Hamsik ke Milan masih dalam tanda tanya menyusul pernyataan pemilik sekaligus presiden I Rossoneri, Silvio Berlusconi, yang berjanji kalau klubnya tidak akan membeli pilar Napoli itu di hadapan fan Partenopei beberapa waktu lalu.

Sumber: Bolanews.com

Powered By Facebook
Berbeda dengan perayaan kemenangan di sejumlah kompetisi pada umumnya, Primera Division La Liga mengenalkan sebuah tradisi unik sekaligus menarik dalam menyambut sang juara. Orangorang Spanyol menyebutnya el pasillo. Tradisi ini biasanya digelar di partai kandang terakhir tim juara menjelang penutup musim seperti yang tampak dalam partai Barcelona versus Deportivo La Coruna pekan lalu di Camp Nou.
Secara harfiah, pasillo berarti “koridor, lorong”. Layaknya sebuah tradisi yang turun-temurun dan tumbuh di masyarakat, tidak ada catatan pasti bagaimana pasillo mulai merasuk ke dalam lingkungan sepak bola Spanyol. Bisa disebut pasillo adalah folklor bagi kebanyakan masyarakat Hispania di Amerika Latin. Dengan kata lain, pasillo adalah hasil kebudayaan manusia yang populer, menasional, dan turun-temurun.
Mengadopsi genre musik waltz khas Amerika Latin, pasillo adalah sejenis tarian komunal dalam sebuah kegiatan sosial masyarakat yang mengekspresikan kegembiraan karena datangnya kemerdekaan hidup. Berjajar saling berhadapan, setiap pasangan sebagai pusat perhatian menari bergantian dengan tepukan irama ¾.
Sebagai sebuah aksentuasi sosial, tidaklah mengherankan bila pasillo kemudian menular ke lingkungan sepak bola sebagai permainan komunal melalui para penggila olah raga ini. Ketika tim yang didukung memenangi pertandingan, mereka pun menari bergembira merayakan keberhasilan tersebut. Sekelompok orang di tribun kemudian berbaris membentuk semacam “lorong” dengan salah seorang menari sebagai pusat perhatian. Konon, keunikan perayaan ini diasosiasikan sejumlah jurnalis mirip sebuah catwalk.
Kini, konsep pasillo tidak mengalami pergeseran, hanya sedikit mengalami modifikasi karena diimplementasikan di atas lapangan.
Seolah panggung catwalk, setiap tapak kaki para juara di altar sepak bola yang diiringi aplaus pendukung menerobos "lorong" pemain lawan menuju penghormatan sang juara.

Sumber: Bolanews.com

Powered By Facebook
Tidak pernah tebersit dalam benak siapa pun pelaku di dunia olah raga profesional dewasa ini keinginan untuk mengalah sebelum bertanding, apa pun kondisi yang terpapar saat itu. Taruhannya jelas, pride dan prize sebagai yang terbaik.
Tidaklah mengherankan bila ketika tim atau seorang atlet harus menyerahkan kemenangan kepada lawannya sebelum atau di tengah pertandingan, penyesalan mendalam tergambar dalam setiap gestur tubuhnya. Sebagai konsekuensi, ia harus memberikan kemenangan WO kepada sang lawan. Sebuah situasi yang tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak. Sementara seseorang harus “menderita” karena faktor nonteknis, kontestan di seberang sana seperti mendapat kemenangan tanpa berkeringat.
Itulah kenapa WO sebisa mungkin diminimalkan jauh-jauh hari. Selain tidak mencerminkan semangat fair play dalam sebuah persaingan, juga demi kualitas kompetisi itu sendiri.
Dalam konteks olah raga, WO adalah kependekan dari walkover. Oxford English Dictionary di antaranya menyatakan bahwa walkover pertama kali diimplementasikan dalam lomba pacuan kuda di Inggris. Terminologi khas pacuan kuda ini dipopulerkan Jockey Club, sebuah penyelenggara komersial balap kuda dan kini dikenal sebagai British Houseracing Authority pada awal abad ke-19 dengan maksud untuk melegimitasi kemenangan seekor kuda pacuan dalam satu putaran perlombaan.
Karena dalam perlombaan hanya ada satu starter kuda tunggangan, sementara peserta yang lain tidak muncul akibat diskualifikasi atau tengah menjalani skorsing, maka secara tidak langsung boleh melaju ke putaran berikutnya. Ia mendapat privilese ‘menapak ke atas’ sebagai ganjaran. Begitu kira-kira definisi walkover seperti yang termaktub dalam Oxford English Dictionary.
Sebelumnya, si kuda pacuan harus menyelesaikan satu lap putaran dan melewati judge’s box untuk keabsahan kemenangan.
Kini, istilah walkover telah menjadi konsumsi publik yang mengacu pada persaingan di antara kubu atau individu. Ruang lingkupnya pun tak hanya olah raga, tapi sudah mengokupasi setiap sendi kehidupan seperti politik. Inilah sumbangan dunia olah raga dalam memperkaya perbendaharaan peristilahan.

Sumber : bolanews. com

Powered By Facebook
Manajer Blackpool, Ian Holloway, harus mulai hati-hati saat melakukan pergantian pemain. Khususnya terhadap tiga personel dengan kemiripan nama: Luke Varney, David Carney, dan Stephen Crainey.
Manajer klub promosi itu mengakui telah melakukan kesalahan pergantian pemain pada laga kontra Wolverhampton pekan lalu, yang berakhir 2-1 untuk Blackpool.
Holloway ingin mengganti Varney (nomor 16) dengan bek sayap Carney (29) agar melapis pertahanan di depan bek kiri Crainey (3). Akan tetapi, justru Crainey yang keluar digantikan Carney karena memang nomor kostum keduanya yang muncul di papan pergantian pemain.
”Kami membuat kekacauan. Saya sebenarnya ingin menarik Varney, seorang striker, dan memasukkan Carney agar tim dapat lebih bertahan. Tapi, yang keluar justru Crainey,” kata Holloway kepada Blackpool Gazette. “Untung saja pergantian itu positif dan kami tidak mengalami momen ‘apa yang ia lakukan di lapangan?’. Saya tak ingin hal itu terjadi,” tambah Holloway.
Sang manajer pun membuat kebijakan baru bahwa para staf harus mengonfirmasi ulang setiap perintahnya karena Varney, Carney, dan Crainey agak susah dilafalkan.

Sumber: Bolanews.com

Powered By Facebook
Animo masyarakat yang begitu besar atas pergelaran Djarum Indonesia Open Premier Super Series 2011 membuat BWF pun sampai menyatakan bahwa penyelenggaraan ajang tahunan ini menjadi salah satu yang terbaik tahun ini.
Penilaian ini meluncur dari Darren Parks, Events Director BWF, dalam jumpa pers pada Minggu malam, usai kejuaraan berhadiah total 600 ribu dolar AS itu dihelat.
“Bahkan, dari sisi peminat dan pelaksanaannya, penyelenggaraan kejuaraan ini bahkan bisa disetarakan dengan All England,” tegas Darren.
Ya, tidak salah penilaian wakil BWF tersebut. Bisa dikatakan tiada hari tanpa keriuhan di barisan penonton, baik di dalam dan luar Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, selama 21-26 Juni.
“Dari sukses penyelenggaraan memang sangat baik karena penonton memenuhi Istora di dalam dan di luar. Ini adalah bukti yang sangat baik dari maintenance Djarum kepada para penggemar bulu tangkis,” ujar ketua panpel yang juga Sekjen PB PBSI, Jacob Rusdianto.
Para penggemar bulu tangkis sangat dimanjakan dengan berbagai sajian yang diberikan panitia. Mulai dari poster replika para pemain nasional yang pernah menjadi jawara-jawara internasional seperti Liem Swie King hingga Candra Wijaya, giant screen di area pintu masuk Istora bagi yang tak kebagian tiket, meet and greet dengan para pebulu tangkis dunia, hingga kehadiran stan-stan di Planet Badminton yang membuat atmosfer bulu tangkis semakin terasa.
Hal senada diutarakan oleh Roland Halim, perwakilan PT Djarum. Menurutnya, penyelenggaraan kali ini sukses. Penonton selalu memenuhi arena, sementara sisi hiburan yang digelar di Planet Badminton juga terasa semarak. “Kalaupun ada yang kurang, hanya karena tidak ada gelar yang direbut pemain kita,” tegasnya.
Istora yang dibangun pada sekitar tahun 1960-an dan berdaya tampung sekitar 6.000 orang ini sepertinya sudah tak mampu lagi menyerap seluruh kegilaan masyarakat Indonesia akan bulu tangkis.

Sumber: Bolanews.com

Powered By Facebook
Animo masyarakat yang begitu besar atas pergelaran Djarum Indonesia Open Premier Super Series 2011 membuat BWF pun sampai menyatakan bahwa penyelenggaraan ajang tahunan ini menjadi salah satu yang terbaik tahun ini.
Penilaian ini meluncur dari Darren Parks, Events Director BWF, dalam jumpa pers pada Minggu malam, usai kejuaraan berhadiah total 600 ribu dolar AS itu dihelat.
“Bahkan, dari sisi peminat dan pelaksanaannya, penyelenggaraan kejuaraan ini bahkan bisa disetarakan dengan All England,” tegas Darren.
Ya, tidak salah penilaian wakil BWF tersebut. Bisa dikatakan tiada hari tanpa keriuhan di barisan penonton, baik di dalam dan luar Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, selama 21-26 Juni.
“Dari sukses penyelenggaraan memang sangat baik karena penonton memenuhi Istora di dalam dan di luar. Ini adalah bukti yang sangat baik dari maintenance Djarum kepada para penggemar bulu tangkis,” ujar ketua panpel yang juga Sekjen PB PBSI, Jacob Rusdianto.
Para penggemar bulu tangkis sangat dimanjakan dengan berbagai sajian yang diberikan panitia. Mulai dari poster replika para pemain nasional yang pernah menjadi jawara-jawara internasional seperti Liem Swie King hingga Candra Wijaya, giant screen di area pintu masuk Istora bagi yang tak kebagian tiket, meet and greet dengan para pebulu tangkis dunia, hingga kehadiran stan-stan di Planet Badminton yang membuat atmosfer bulu tangkis semakin terasa.
Hal senada diutarakan oleh Roland Halim, perwakilan PT Djarum. Menurutnya, penyelenggaraan kali ini sukses. Penonton selalu memenuhi arena, sementara sisi hiburan yang digelar di Planet Badminton juga terasa semarak. “Kalaupun ada yang kurang, hanya karena tidak ada gelar yang direbut pemain kita,” tegasnya.
Istora yang dibangun pada sekitar tahun 1960-an dan berdaya tampung sekitar 6.000 orang ini sepertinya sudah tak mampu lagi menyerap seluruh kegilaan masyarakat Indonesia akan bulu tangkis.

Sumber: Bolanews.com

Powered By Facebook

Clock

Blogwalking

Labels

Blog Archive

About Me

Foto Saya
Bocah Petualang
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Page Rank

Visitor

free counters

Histats

CheatBox


ShoutMix chat widget